ahmad.fauzi4110's blog
Just another weblog

Perjuanganku Menuju IPB (Sebuah Motivasi Untukmu)

February 14th 2011 in Uncategorized

Pagi itu, aku tak sabar untuk melihat pengumuman hasil tes masuk perguruan tinggi setelah di Subuh tadi berboondong-bondong orang yang sebaya denganku di televisi sibuk meniti kata demi kata pada bagian halaman surat kabar berharap tertulis namanya di kolom itu. Ada yang berteriak riang setelah membaca surat kabar itu, sujud syukur, dan ada pula yang tenang bahkan menangis dikarenakan namanya tidak ada di kolom pengumuman tersebut. Hatiku pun semakin menggebu saat melihat newsticker di bagian layar televisi memberitakan bahwa dari lebih tiga ratus ribu pendaftar, peserta yang lulus tes sekitar delapan puluh ribu-an.

Jam dinding menunjukkan pukul 08.00 WIB, waktu dimana biasanya warnet di sekitar daerahku “membuka diri” untuk menerima pelanggan-pelanggannya. Akupun sudah siap menunggu dari tadi. Kuhubungi orangtuaku yang berada di Medan sembari meminta restu, dan akupun beranjak menuju warnet yang tempatnya sekitar 3 KM dari lokasi tempat tinggalku. Tiba di tempat yang aku tuju, aku langsung duduk  disalah satu komputer yang kebetulan masih ada yang kosong.

Berhadapan dengan layar komputer itu, aku segera membuka halaman webpenyelenggara tes tersebut, “http://www.snmptn.ac.id/” dan kumasukkan nomor peserta ujian, kemudian muncul tabel kecil yang menyuratkan namaku. “AHMAD FAUZI, Diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB), Jurusan Ilmu Ekonomi Syariah”. Tanpa sadar aku berteriak cukup keras hingga penghuni warnet disana memandang padaku, tapi aku tak peduli, aku lulus, aku akhirnya kuliah di salah satu perguruan tinggi yang terpandang di Indonesia.

Namun, hal di atas hanya pembuka ceritaku pada lembaran ini, penguap rahmat Allah swt. yang telah kuterima, karena masih ada sebuah pengalaman yang begitu luar biasa yang ditunjukkan dan diberikan Allah pada diriku.

Aku sebenarnya adalah salah satu dari banyak anak yang memiliki mimpi untuk dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi, namun terhalang akan biaya pendidikan dan ekonomi keluarga yang tak dapat mendukung serta menyokong pendidikanku.

Berawal dari berita pengumuman tersebut, aku langsung memberitahu kepada pihak sekolahku. Kenapa aku pertama kali memberitahu kepada pihak sekolah daripada kepada orangtuaku? Hal itu disebabkan, aku adalah anak angkat para guru, tidak hanya karena aku sendirian hidup di Kabupaten Solok, tetapi juga karena aku tinggal di sekolah itu pula dan jika aku pertama kali memberitahu orangtua ataupun keluarga kandungku sendiri, hanyalah kalimat-kalimat pematah semangatku yang ku dapat.

Registrasi tahap pertama adalah pengiriman data administrasi dan data diri kepada panitia PMB sebelum tanggal 23 Juli 2010, registrasi tahap pertama itu ku yakin mampu untuk melaluinya, tapi yang menjadi beban pemikiranku adalah pendaftaran ulang atau registrasi tahap kedua tanggal 9 Agustus 2010 yang sebelumnya harus ada penyetoran biaya pendidikan tahun pertama sebelum tanggal 4 Agustus 2010. Kubayangkan mencari uang sebesar 3,5 juta rupiah dalam kisaran waktu dua minggu, bagi keluargaku itu adalah hal yang tak wajar apalagi bagiku yang waktu itu telah berubah status dari pelajar SMA menjadi “calon mahasiswa”.

Usahaku waktu itu adalah mempersiapkan proposal untuk dapat diajukan ke pemerintah daerah. Hal yang memang telah kurancang sebelumnya andaikata aku lulus di perguruan tinggi. Namun, semua itu proses yang cukup lama dalam realisasi dananya, sedangkan aku harus membayar di waktu dekat ini. Seorang guru bahasa Inggris menawarkan diri untuk membantuku, memang bukanlah dalam bentuk materi, hanyalah tindakan yang menuju untuk mendapatkan solusi dari belitan masalah yang aku hadapi.

Tujuh hari kami kesana-kemari mengajukan proposal ke berbagai instansi pemerintah, dan hasilnya tetap sama hanya berupa janji yang masih butuh proses dalam merealisasikannya. Selama waktu itu pula aku tinggal di rumah guru yang ia pun kini menjadi ibu angkatku. Setiap hari dan setiap sholat aku selalu berdoa agar dapat menemukan solusi permasalahanku, sebab selalu teringat kata-kata ibu angkatku hingga kini, ”janganlah hanya mengajukan proposal pada sesama manusia, ajukan pada Allah dan bayangkan kamu mendapatkannya, insyaAllah hal itu kan menjadi nyata.”

Waktuku mencari dana hanyalah seminggu lagi sebelum berangkat ke Bogor yang ku targetkan akan pergi tanggal 3 Agustus 2010, sebab mesti ada adaptasi dan pengetahuan mengenai dimana aku akan kuliah, namun dana yang terkumpul barulah seratus ribu rupiah yang diberikan oleh salah satu guru honor di SMA ku. Pengaduan akan permasalahanku sampai ke dinas pendidikan kabupaten, dan dari sana kami mendapatkan saran untuk menerbitkan profil diriku di surat kabar. Bapak yang memberikan saran tersebut pun ternyata adalah juri ketika aku memenangkan lomba cerdas cermat dalam bahasa Inggris tingkat Kabupaten Solok beberapa bulan yang lalu saat aku masih berstatus pelajar SMAN 2 Gunung Talang. Beliau memberikan nama dan nomor handphone wartawan yang kebetulan adalah juga seorang guru bahasa Indonesia di salah satu SMP yang ada di daerah Kabupaten Solok itu. Segera kami menuju ke SMP dimana wartawan tersebut mengajar.

SMPN 4 Gunung Talang, sekitar 20 KM dari lokasi Dinas Pendidikan Kabupaten, tempat itulah yang kami tempuh dengan menggunakan sepeda motor milik ibu angkatku itu. Sekitar 45 menit, kami sampai di tempat dimana di sekelilingnya hijau datar didominasi oleh tanaman teh, karena lokasi SMP tersebut dekat dengan pabrik dan perkebunan teh milik negara. Kami menuju kediaman wartawan tersebut, akupun langsung ditanyai beberapa pertanyaan mengenai seluk beluk orangtua dan keluarga, hingga prestasi apa saja yang pernah kudapat selama aku sekolah di SMAN 2 Gunung Talang dengan kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan. Sang wartawan yang begitu tulus membantuku  tanpa pamrih itu pun menjanjikan dua hari mendatang profil diriku akan diterbitkan tepatnya pada hari Rabu, tanggal 28 Juli 2010 di Harian Umum Singgalang yang merupakan surat kabar yang sangat berpengaruh di daerah Sumatera Barat.

Menjelang menanti hari penerbitan profil diriku itu, aku dan ibu angkatku itu masih saja bersemangat mencari uluran tangan dari orang-orang yang berhati mulia. Saat hari itu tiba, batinku terharu melihat ada foto diriku yang disertai profil diriku di surat kabar. Hanya hitungan jam, kepala sekolahku mengabarkan melalui handphonemilik guruku yang memberitakan bahwa ada seseorang yang ingin membantu meringankan beban biaya yang kutanggung, orang itu berada di kota Bukittinggi, sekitar 76 KM dari daerah ku Kabupaten Solok. Akupun berangkat kesana menggunakan bis umum ditemani wakil kepala sekolahku dan dari orang begitu dermawan itu, aku menerima bantuan dana sebesar 3 juta rupiah secara tunai, jumlah uang yang tak pernah terbayang sebelumnya dapat ku pegang. Aku pulang dengan rasa syukur dan terima kasih menuju Solok. Tapi, belum lagi aku sampai menempuh setengah perjalanan, ada yang menghubungi handphone milikku, mengatakan bahwa dirinya dari instansi pemerintah dan ada seorang temannya yang ingin membantu diriku, namun aku harus segera menuju ke solok. Kemudian aku pun menjawab, “insyaAllah saya bisa pak, tapi secepat-cepatnya mungkin saya ba’da maghrib dapat tiba disana.” Beliau pun memaklumi, karena perjalanan Bukittinggi ke Solok memakan waktu sekitar 2 jam sedangkan jam di telepon genggamku menunjukan pukul 16.30 WIB.

Akupun akhirnya tiba di Solok tepat pada waktu azan maghrib berkumandang, dan kebetulan pemberhentian bis tepat pula di depan mesjid, langsung saja aku dan guru pendampingku mengambil air wudhu’ untuk segera shalat. Tapi, masih ada perjalanan yang mesti aku tempuh menuju lokasi yang dijanjikan sebagai tempat pertemuan diriku dengan seseorang yang begitu mulia hatinya. Selang waktu 20 menit barulah aku sampai dan dari pertemuan itu aku menerima bantuan dana 5 juta rupiah. Syukur alhamdulillah, ALLAAHUAKBAR. Hatiku menangis haru tapi mataku tak mampu meneteskan air mata, sebab itu yang disarankan oleh Hamba Allah yang ikhlas membantuku.

Sehabis pertemuan itu, aku kembali diantarkan pulang ke rumah guru yang lebih tepatnya ibu angkatku. Tubuhku begitu letih namun hatiku semakin membara bersemangat menerima anugerah yang luar biasa dariNYA. Tak pernah terpikir olehku bahwa aku menerima uang sejumlah delapan juta.

Belum habis kekaguman akan limpahan rahmat dariNYA, akupun diundang mengikuti acara khatam quran yang kebetulan dihadiri oleh Bapak Wakil Bupati, Ketua DPRD, Ketua Kementrian Agama Kabupaten dan puluhan masyarakat, dalam acara tersebut profil dan permasalahan diriku kembali diinformasikan sehingga dari acara tersebut diriku mendapatkan bantuan dana sebesar 5 juta. Hingga akhirnya dana bantuan yang aku terima mencapai 17 juta rupiah, dan hal ini diluar perhitungan biaya yang kubutuhkan dalam pembayaran biaya kuliah dan biaya hidup untuk beberapa bulan di Bogor. Kini, biaya pendidikan alhamdulillah dapat kubayarkan dan untuk biaya hidup serta keperluan untuk kuliah pun kurasa sudah sangat mencukupi. Laksana hamba meminta air setitik, Tuhan memberi air selautan, hal itu yang kualami dan terbukti nyata bahwa Allah mendengar dan menanggapi apa yang kita butuhkan baik itu kita sadari atau tidak mampu untuk kita analisis dengan logika.

Bagi teman-teman dan saudara-saudaraku, berprestasi, berdoa, bertawakkal dan bayangkan impianmu jadi nyata….niscaya Allah dan orang-orang di sekitarmu akan menyukaimu, lalu Allah pun akan menjadikan nyata apa yang engkau impikan.


Comments are closed.

Malam itu…aku di ketinggian gedung, memandang jauh ke ufuk kota. Kutemukan gemerlap cahayanya indah…yang kupikirkan hanya. .andaikan ia bisa melihat keindahan itu…
Aku serasa tertinggi di malam itu…bertemankan hembusan halus angin yang senantiasa menambah kesempurnaan pandangan yang tengah kunikmati…Namun, masih terbersit dalam hati…andaikan ia bisa merasakan kenyamanan itu…

Berat serasa tuk melangkah menuruni satu per satu anak […]

Next Entry

Recent Comments
  • No comments
Categories